Senin, 29 Maret 2010

Fenomena “saling siku” dikampus yang biru.

Sistem pengajaran mata kuliah dikampus nampaknya sudah cukup baik, begitupun dengan situasi lingkungan kampus yang memang bersahabat sehingga dapat menciptakan suatu atmosfir yang positif bagi seluruh mahasiswa. Namun menjadi miris ketika diantara mahasiswa yang notabene memiliki pola pikir yang dewasa terjadi suatu tindakan yang seharusnya tidak baik dilakukan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa dilingkungan kampus terdapat budaya “saling siku”, baik secara personal maupun yang sampai melibatkan kelompok. Bagi mereka yang awam mungkin tidak akan begitu peka terhadap fenomena ini namun perlu diketahui bahwasanya fenomena seperti ini memiliki dampak yang tidak menentu, tergantung dari bagaimana cara menyikapinya sehingga dapat berdampak positif atau negatif.
Perbedaan kepentingan dan rasa ingin memiliki yang kuat merupakan sebagian alasan mengapa fenomena “saling siku” muncul dengan kerasnya dikampus biru. Ketika seseorang dengan keyakinannya “menyerang” seseorang lainnya yang juga memiliki argumen yang kuat untuk bertahan disitulah terjadi “saling siku”.
Orang – orang menyebutnya sebagai angkatan ganjil. Ya, memang yang terungkap telah terlibat dibalik ini semua merupakan salah satu dari angkatan ganjil di fikom unisba. Entah sadar atau tidak sadar, disengaja atau tidak disengaja, sikap ini muncul dari seseorang yang memang sedang sama – sama belajar. Suatu pernyataan sikap yang cukup mengagetkan yang dipaparkan melalui media publik, bernada menantang dan terkesan tinggi hati.
tentunya tidak hanya dibaca dan diketahui oleh kalangan tertentu, namun juga diketahui oleh khalayak ramai, yang memang tidak ada kepentingan sama sekali dengan hal ini, akan tetapi menjadi suatu dorongan untuk ikut campur dalam masalah ini dikarenakan pernyataan yang dilontarkan tersebut memang mengundang banyak kontroversi, karena dianggap telah mengusik ketentraman dilingkungan mahasiswa fikom.
Dampak yang dirasakan adalah hilangnya simpati dari sebagian besar mahasiswa fikom terhadap mereka yang melakukan itu, dan juga membuat suasana dilingkungan mahasiswa fikom menjadi tidak se-sehat dulu.
Terlepas dari maksud dan tujuannya, namun disini semua orang dapat sama – sama melihat bahwa memang kehidupan kampus yang sekilas terkesan tentram tapi dibalik itu terdapat suatu fenomena “saling siku” yang mengharukan, ditengah – tengah solidaritas yang sedang dibangun diantara mahasiswa, timbul sebuah permasalahan yang seolah – olah menjadi sebuah pukulan keras untuk semua mahasiswa, khususnya mahasiswa fikom.
Dari kejadian itu, sangat tidak baik apabila kita mengambil kesimpulan yang negatif, namun disini yang dapat ditarik adalah sebuah pembelajaran moral dan etika, serta tahap pendewasaan dimana satu dan yang lainnya dapat saling menghormati dan menghargai. Harapannya, agar kedepan kita semua mahasiswa fikom unisba dapat menjalani kehidupan dikampus biru dengan tanpa diganggu oleh hal – hal semacam itu.

Selasa, 02 Maret 2010

Kemanakah suara itu?

Langkahku ini membawaku pada sebuah 'dunia' yang terlihat gelap, namun penuh dengan semangat, semangat untuk menyuarakan nyanyian hati yang berangkat dari sebuah kejujuran.
Tempat ini adalah tempat yang menurutku sangat berarti, dari tempat ini aku mulai mengenal sebuah idealisme yang kuat yang tertuang pada sebuah karya seni.
Memang, aku bukanlah seorang yang begitu mengerti seni secara mendalam, meski begitu aku sedikit banyak tahu tentang karya seni yang menurut orang-orang itu tidak berarti apa-apa tapi menurutku sangat bernilai.
Adalah kota kembang, kota dimana aku dilahirkan dan dibesarkan sampai dengan saat ini, kota yang dimana didalamnya terdapat banyak sekali masyarakat yang berpotensi melahirkan mahakarya seni yang tak ternilai harganya.
Kotaku ini adalah kota yang mengandung 80% sindrom kreatifitas, khususnya musik. maka sudah tak asing lagi jika disetiap jengkalnya kotaku ini terdapat banyak sekali musisi-musisi kenamaan. Terkesan berlebihan memang, namun itulah realita yang ada.
Pergerakan musik bawah tanah adalah yang paling banyak menjamur di kotaku ini, pagelaran musik ini sangat sering sekali diadakan, bukan untuk sekedar unjuk kebolehan saja, namun juga dijadikan sebagai ajang komersil oleh para investor-investor berduit.
Musik bawah tanah memang tidak begitu mudah diterima oleh orang-orang, terutama yang memang tidak mengerti apa itu musik bawah tanah.
Seiring bergulirnya waktu, musik bawah tanah kian tersisihkan, seperti saat ini contohnya, dentuman instrumen khas musik bawah tanah itu sudah jarang lagi terdengar, suara-suara khas teriakan metal pun perlahan menghilang, gigs-gigs underground yang dianggap sebagai surganya musisi bawah tanah kini sudah jarang digelar.
Kemanakah suara itu? Suara yang dulu menghiasi dunia gelap kota ini. Kemanakah kerumunan itu? Kerumunan yang menjadikan aku dan yang lainnya berbaur dalam satu emosi. Dan kemanakah kegelapan itu? Kegelapan yang dulu menjadi penerang untuk dunia bawah tanah.
Kini hanya tinggal menunggu, menunggu 'matahari' yang redup untuk terang kembali.
Bravo underground...