Selasa, 02 Maret 2010

Kemanakah suara itu?

Langkahku ini membawaku pada sebuah 'dunia' yang terlihat gelap, namun penuh dengan semangat, semangat untuk menyuarakan nyanyian hati yang berangkat dari sebuah kejujuran.
Tempat ini adalah tempat yang menurutku sangat berarti, dari tempat ini aku mulai mengenal sebuah idealisme yang kuat yang tertuang pada sebuah karya seni.
Memang, aku bukanlah seorang yang begitu mengerti seni secara mendalam, meski begitu aku sedikit banyak tahu tentang karya seni yang menurut orang-orang itu tidak berarti apa-apa tapi menurutku sangat bernilai.
Adalah kota kembang, kota dimana aku dilahirkan dan dibesarkan sampai dengan saat ini, kota yang dimana didalamnya terdapat banyak sekali masyarakat yang berpotensi melahirkan mahakarya seni yang tak ternilai harganya.
Kotaku ini adalah kota yang mengandung 80% sindrom kreatifitas, khususnya musik. maka sudah tak asing lagi jika disetiap jengkalnya kotaku ini terdapat banyak sekali musisi-musisi kenamaan. Terkesan berlebihan memang, namun itulah realita yang ada.
Pergerakan musik bawah tanah adalah yang paling banyak menjamur di kotaku ini, pagelaran musik ini sangat sering sekali diadakan, bukan untuk sekedar unjuk kebolehan saja, namun juga dijadikan sebagai ajang komersil oleh para investor-investor berduit.
Musik bawah tanah memang tidak begitu mudah diterima oleh orang-orang, terutama yang memang tidak mengerti apa itu musik bawah tanah.
Seiring bergulirnya waktu, musik bawah tanah kian tersisihkan, seperti saat ini contohnya, dentuman instrumen khas musik bawah tanah itu sudah jarang lagi terdengar, suara-suara khas teriakan metal pun perlahan menghilang, gigs-gigs underground yang dianggap sebagai surganya musisi bawah tanah kini sudah jarang digelar.
Kemanakah suara itu? Suara yang dulu menghiasi dunia gelap kota ini. Kemanakah kerumunan itu? Kerumunan yang menjadikan aku dan yang lainnya berbaur dalam satu emosi. Dan kemanakah kegelapan itu? Kegelapan yang dulu menjadi penerang untuk dunia bawah tanah.
Kini hanya tinggal menunggu, menunggu 'matahari' yang redup untuk terang kembali.
Bravo underground...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar