Sistem pengajaran mata kuliah dikampus nampaknya sudah cukup baik, begitupun dengan situasi lingkungan kampus yang memang bersahabat sehingga dapat menciptakan suatu atmosfir yang positif bagi seluruh mahasiswa. Namun menjadi miris ketika diantara mahasiswa yang notabene memiliki pola pikir yang dewasa terjadi suatu tindakan yang seharusnya tidak baik dilakukan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa dilingkungan kampus terdapat budaya “saling siku”, baik secara personal maupun yang sampai melibatkan kelompok. Bagi mereka yang awam mungkin tidak akan begitu peka terhadap fenomena ini namun perlu diketahui bahwasanya fenomena seperti ini memiliki dampak yang tidak menentu, tergantung dari bagaimana cara menyikapinya sehingga dapat berdampak positif atau negatif.
Perbedaan kepentingan dan rasa ingin memiliki yang kuat merupakan sebagian alasan mengapa fenomena “saling siku” muncul dengan kerasnya dikampus biru. Ketika seseorang dengan keyakinannya “menyerang” seseorang lainnya yang juga memiliki argumen yang kuat untuk bertahan disitulah terjadi “saling siku”.
Orang – orang menyebutnya sebagai angkatan ganjil. Ya, memang yang terungkap telah terlibat dibalik ini semua merupakan salah satu dari angkatan ganjil di fikom unisba. Entah sadar atau tidak sadar, disengaja atau tidak disengaja, sikap ini muncul dari seseorang yang memang sedang sama – sama belajar. Suatu pernyataan sikap yang cukup mengagetkan yang dipaparkan melalui media publik, bernada menantang dan terkesan tinggi hati.
tentunya tidak hanya dibaca dan diketahui oleh kalangan tertentu, namun juga diketahui oleh khalayak ramai, yang memang tidak ada kepentingan sama sekali dengan hal ini, akan tetapi menjadi suatu dorongan untuk ikut campur dalam masalah ini dikarenakan pernyataan yang dilontarkan tersebut memang mengundang banyak kontroversi, karena dianggap telah mengusik ketentraman dilingkungan mahasiswa fikom.
Dampak yang dirasakan adalah hilangnya simpati dari sebagian besar mahasiswa fikom terhadap mereka yang melakukan itu, dan juga membuat suasana dilingkungan mahasiswa fikom menjadi tidak se-sehat dulu.
Terlepas dari maksud dan tujuannya, namun disini semua orang dapat sama – sama melihat bahwa memang kehidupan kampus yang sekilas terkesan tentram tapi dibalik itu terdapat suatu fenomena “saling siku” yang mengharukan, ditengah – tengah solidaritas yang sedang dibangun diantara mahasiswa, timbul sebuah permasalahan yang seolah – olah menjadi sebuah pukulan keras untuk semua mahasiswa, khususnya mahasiswa fikom.
Dari kejadian itu, sangat tidak baik apabila kita mengambil kesimpulan yang negatif, namun disini yang dapat ditarik adalah sebuah pembelajaran moral dan etika, serta tahap pendewasaan dimana satu dan yang lainnya dapat saling menghormati dan menghargai. Harapannya, agar kedepan kita semua mahasiswa fikom unisba dapat menjalani kehidupan dikampus biru dengan tanpa diganggu oleh hal – hal semacam itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar